THE VOW

Main Cast: Cho Kyuhyun – Kwon Yuri
Genre: Fluff, Angst & Romance

Artby: elshjr

Disclaimer: Don’t copas or take out. Respect please. Story pure by mine

Happy Reading^^

”Tidak ada yang perlu di khawatirkan, jika sebuah cinta itu murni, cinta itu akan kembali pada pemilik sesungguhnya. Betapapun banyaknya kebohongan, keputusasaaan akan sebuah kehilangan, pada akhirnya bahagia yang akan tersimpan. Jika cinta itu murni..”
Yuri’s POV 

“Apa yang sedang kau lamunkan nona Kwon?” sebuah tangan kekar dengan tiba-tiba merangkul pundak mungilku. Aku tahu, sebentar lagi akan ada pertanyaan-pertanyaan yang segera menyerangku. Sshhh.. Ku buang nafas pelan, menghirup sedalam-dalamnya udara, berharap semuanya akan kembali normal. 

“Kau tidak mendengarku yaa? Tsk!” Cibiran mulai keluar dari bibirnya, sengaja? Tidak, aku hanya merasa ingin membungkam mulutku untuk saat ini. 

Aku menatapnya dengan gusar, mata kami saling beradu pandang. Terlihat jelas dari kelopak matanya, di sana menampakkan sebuah kekhawatiran yang mendalam. Aku tahu, ini tidak seharusnya memberatkannya tapi, aku sendiri tidak mengetahui apa alasannya di balik kekhwatiran itu. Aku mencoba menenangkannya dengan memberi seulas senyuman tipis. Ku harap setelahnya tidak ada lagi pertanyaan maupun cibiran.

“Baiklah, jika kau ingin menahan tiap perkataan yang ingin kau lontarkan. Aku tidak akan memaksa lagi, asal kau tahu nona Kwon, kau bukan pembohong ulung. Meskipun mulutmu tertutup tapi ekspresi dari tiap mimik wajahmu dengan jelas menggambarkan suasana hatimu saat ini. Kau kelam, kau kalut, kau takut, kau khawatir, kau menyerah, kau tidak berdaya dan, kau menyedihkan.” 

Sedikit geli mendengar ucapannya itu tapi, itulah kenyataannya. Ia benar, semua tuduhan yang ia bantahkan kepadaku sama dengan realitanya. Aku kelam, aku kalut, aku takut, aku khawatir, aku menyerah, aku tak berdaya, dan aku menyedihkan. 

“Choi Minho-ssi.” Seketika matanya berbinar, aku tahu apa yang sedang ia pikirkan, ia merasa bahwa aku akan menjelaskan semuanya kepadanya. Ia memandangku dengan penuh minat. Aku terkekeh melihat perubahan moodnya. 

“Tidak ada yang ingin aku jelaskan kepadamu. Aku tahu kau sangat ahli dalam menilai kondisi fisik dan batin seseorang. Aku tidak akan mengelak terhadap apa yang kau ucapkan tadi. Aku dengan jujur membenarkan ucapanmu. Tapi bukan berarti aku harus menceritakan alasan dibalik semuanya itu. Jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja.” Berharap perkataanku ini bisa di cernanya sebaik mungkin.

“Kau masih memikirkannya Noona?” Entah sengaja atau tidak minho bertanya seperti itu. Aku hanya menganggukkan kepalaku mengiyakan pertanyaannya. Minho berdecak kesal. Ia bangkit dari duduknya seraya berkacak pinggang. Aku tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan. Ku pikir ia akan memarahi ku dan mencoba untuk menyadarkanku atau semacamnya. Dan, dugaanku meleset, aku terperangah melihat tingkahnya. Ia mengacak pelan rambutku dan memberika senyum termanisnya. Tidak seperti biasa. Jelas ada perbedaan di sini. 

“Apa yang kau lakukan Minho-ssi?” Ia tidak menjawab langsung pertanyaanku. Ia mengulurkan tangannya di depanku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku menerima uluran tangannya. Ia merogoh saku celananya dan menyelipkan sesuatu seperti kertas di tanganku. Aku menerimanya dengan perasaan bercampur aduk. Aku jelas tidak tahu apa maksud Minho sebenarnya. Aku mengernyitkan kening agar mendapat alasan darinya. Minho hanya memberikan senyumnya tidak alasannya. Aku sedikit memincingkan mataku seolah aku akan marah kepadanya tapi apa? Gelak tawa yang keluar dari mulutnya. Dan ini benar-benar membuatku jengkel.

“Yakk, apa maksudmu Minho-ssi? Apa ini? Dan mengapa kau tertawa?” Minho tidak berniat untuk menghentikan tawanya. Kekesalanku semakin bertambah. Aku bangkit dari duduk ku dan menyambar asal ransel yang tergeletak di meja. Baru selangkah, tangan Minho dengan cekatan menahanku.

Ini pasti terjadi. Setiap kali aku akan meninggalkannya, Minho selalu menahanku.

Dan, hampir seisi pengunjung cafeteria melihat ke arah kami, aku dan Minho. Aku mencoba menundukkan badan untuk meminta maaf atas kekacauan yang sudah kami perbuat. 

“Apa lagi Minho-ssi? Kau selalu menahanku jika aku akan pergi tapi kau tak pernah berniat untuk menjelaskan semua kode aneh yang kau berikan kepadaku.” Kesal. Aku melipat kedua tanganku depan dada. Menunggunya untuk berbicara. 

10 detik sudah berlalu, Minho belum juga ingin menjelaskan semuanya. Aku tidak tahan dengan sikapnya itu.

“Apa kau akan terus membisu dan melihat atap-atap cafeteria? Kau ingin aku pergi tanpa tahu menahu soal kodemu itu atau..” Belum juga aku menyelesaikan kalimatku, Minho telah memotongnya.

“Ku harap kau tidak akan marah selagi membacanya Noona. Aku pikir dengan memberikan itu kepadamu akan membuat hidupmu kembali indah seperti sebelumnya. Aku tidak ingin kau menyerah untuk ini. Aku tidak ingin keputusasaan menyerangmu karena ini. Aku tidak ingin kau sedih Noona. Percayalah padaku Noona. Kembalilah pada dirimu yang dulu. Yuri yang selalu memberi senyum tulusnya kepada siapa saja. Yuri yang mencoba untuk meringankan beban orang lain. Yuri yang selalu membuat tingkah-tingkah konyol dan berhasil membuat sesiapapun yang melihatnya akan tertawa. Bisakah kau melakukan itu lagi Noona? Bukan untukku ataupun orang lain tapi semuanya untuk dirimu sendiri. Lihatlah kau yang sekarang, kau begitu sangat menyedihkan. Kau merubah dirimu sendiri seperti zombie. Kau menakutkan Noona. Semua orang menginginkan Yuri yang dulu bukan Yuri yang sekarang. Kami merindukan Noona yang dulu. Kembalilah Noona. Jangan menyiksa dirimu sendiri. Jebal.” Ku lihat setetes cairan bening keluar dari sudut mata kanan Minho. Ia menangis. Aku sendiri terenyuh dengan ucapannya. Aku bergeming mendengar tiap kata yang terlontar dari bibirnya. Tubuhku membeku mendengarnya. Mataku memanas, ingin rasanya ku tumpahkan semua kesedihan ini pada dunia. Tetes demi tetes air mata keluar membasahi pipiku. Kami menangis bersama, tapi tidak pula karena alasan yang sama mengapa kami menangis. 

Minho menatapku nanar, seolah baginya aku adalah yeoja paling menyedihkan. Aku membuang muka, mencoba mengalihkan pandangan darinya. Ku usap dengan kasar air mataku. Aku membenci saat-saat seperti ini. Saat dimana aku menampakkan bebanku kepada oranglain selain dirinya.

“Pergilah Minho.” Minho terkejut dengan reaksiku. Aku tidak berusaha mengusirnya, aku hanya ingin sendiri. Sendiri dengan kesedihanku tanpa ada orang yang mengganggu kami. 

“Kumohon pergilah.” Minho melespakan tautan tangan kami. Sebelum melangkah keluar dari cafeteria, Minho menatapku dengan kekhawatiran.

“Jangan mengkhawatirkanku Minho-ssi. Aku hanya ingin sendiri untuk saat ini.” Sepertinya ia mengerti kekacauanku, Minho meninggalkanku sendiri disini.

***

Alunan music cafeteria tetap mengalun meski sepeninggal Minho. Ku pegang erat kertas yang Minho berikan kepadaku. Penasaran, aku sangat penasaran dengan isinya. Walau begitu, aku tidak segera membukanya.

2 jam sudah aku berkutik dengan pikiranku. Menimbang-nimbang akibat yang akan terjadi seusai aku membacanya. 

Aku merasakan tanganku bergetar tiap kali akan membuka kertas yang di berikan Minho. Entah mengapa hatiku seolah ingin mencelos dari tempat bernaungnya. Hati dan pikiranku tidak sejalan. Hatiku memintaku untuk membukanya sedang, pikiranku menolak untuk melakukan itu. Dan ini membuat semakin cemas. 

Ku teguk gelas berisi cola yang ku pesan sejam yang lalu. Ku netralkan kembali pikiran dan hatiku. Aku mencoba meyakinkan diri ku sendiri untuk mampu membaca isi kertas itu. 

Dengan perasaan was-was, aku mulai membukanya, pelan-pelan namun pasti, berharap tidak akan terjadi sesuatu setelah ini. Tapi apa yang ku temukan? 

“GO HOME. OPEN YOUR RING BOX. FIND SMALL PAPER UNDER RING BOX”

Apa-apaan ini? Apakah Minho mencoba untuk mempermainkanku? Tsk.

Ku sambar ranselku dan pergi keluar dari cafeteria dengan langkah cepat. Tidak, aku tidak berniat untuk kembali ke rumah untuk memastikan apakah ada kertas kecil di balik kotak cincin. Aku tidak sebodoh itu untuk kau permainkan Choi Minho. 

***

Langkah kaki ku tepat berhenti di sebuah markas yang sering kami gunakan dulu, sebelum ia memutuskan untuk meninggalkanku. Aku melihat Tiffany, Yoona, Jessica, Krystal dan Vivian sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri. Aku mendekat ke arah Jessica, ikut berbaring disampingnya.

“Kau darimana saja? Kami cemas menunggumu Yuri-ya.” Aku menautkan kedua alisku. Terkekeh mendengarnya.

“Kalian mengkhawatirkanku tapi tidak mencariku?” Tawaku menggelegar di segala penjuru markas. Serasa banyak sepasang mata dari sahabatku mengintimidasiku, aku segera menampakkan faceflat. Ku lirik Jessica sedang mempoutkan bibirnya. 

“Aku dari cafeteria. Hanya meminum cola dan bersantai.” Ku harap penjelasanku akan menenangkan mereka. Ku lihat Vivian dan Krystal kembali melanjutkan kesibukannya tapi tidak dengan Tiffany, Yoona, dan Jessica. Mereka menatapku ingin di berikan penjelasan lebih. Aku menarik nafas dalam-dalam dan mencoba berterus terang kepada mereka.

“Aku bertemu dengan Minho.” Tiffany dan Yoona yang duduk di meja makan segera menghampiri aku dan Jessica berniat untuk bergabung. 

“Kami hanya melakukan obrolan kecil.” Jessica yang meyandarkan kepalanya di bahuku hanya meng-oh-kan perkataanku. Tiffany dan Yoona menuntut lebih. 

“Apa yang kalian obrolkan? Apa itu sesuatu yang menyakut dia?” Yoona mulai menyerangku dengan pertanyaan-pertanyaannya. Aku menggeleng cepat menimpali pertanyaan Yoona. 

“Minho mencoba menenangkanku dan ia memberiku kertas ini.” Ku sodorkan kertas yang tadi Minho beri kepada Tiffany. Tiffany segera membukanya dan membacanya di ikuti Yoona dan Jessica. 

“Apa maksudnya ini Yul?” Tiffany menanyakanku sesuatu yang tidak bisa aku jawab. Aku mengangkat bahuku tanda aku juga tidak mengerti.

“Ahh unnie, kau harus mengeceknya. Mungkin ada sesuatu yang tidak kau ketahui.” Yoona memberi saran untuk mengeceknya. Benar juga yang di katakan Yoona. 

“Tapi, kotak cincin yang mana? Kau kau punyak banyak kotak cincin. Tidak mungkin kan kau akan mengeceknya satu persatu Yul.” Yang di katakan Jessica juga benar. Aku juga bingung, kotak cincin yang mana yang terdapat kertas itu.

“Atau mungkin kotak cincin dari Cho?” Darahku berdesir mendengar namanya kembali. Kilatan mataku berubah menjadi geram. Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Tapi Tiffany tidak salah, aku juga berprasangka seperti itu. 

***

Aku segera berlari menuju kediamanku. Aku membuka kasar pintu apartmentku. Ku buka seluruh laci meja bahkan lemari. Ku cari kotak cincin yang pernah Cho berikan kepadaku. Dan, aku menemukannya. 

Ku buka kotak itu dan benar, di sana ada kertas yang di lipat kecil. Ku ambil kertas itu, tanpa perasaan was-was, aku membacanya kata tiap kata yang ia tuliskan.
Seoul, 05 desember 2014

Saengil chukka hamnida Yuri-ya. Semoga di umurmu yang bertambah ini kau menjadi yeoja yang lebih dewasa dari eomma. 

Yuri, aku memberimu cincin ini agar kau terus ingat kepadaku meski suatu hari nanti aku akan pergi, kau tidak boleh melepasnya dan jangan sekali-sekali untuk membuangku dalam ingatanmu.

Yuri, aku sangat mencintaimu. Kau berbeda dari yeoja kebanyakan. Kau yang berhasil memenangkan hatiku. Aku ingin suatu saat kita bisa menikah dan memiliki keluarga yang paling bahagia dari keluarga-keluarga yang bahagia. 

Yuri, jangan pergi dariku, seburuk apapun luka yang nantinya ku torehkan kepadamu, jangan pergi, jebal. Aku sangat mencintaimu.

Cho Kyuhyun.

Tak terasa buliran-buliran air mata mengalir deras membasahi pipiku. Mataku terasa panas begitu juga dengan hatiku. 

Adilkah ini bagimu Cho? Kau ingin aku untuk selalu mengingatmu tapi justru kau yang pergi meninggalkanku dan melupakanku. Asal kau tahu Cho, Cincin bagi seorang wanita adalah tanda keterikatan hati. Kau yang telah mengikat hatiku untukmu tapi dengan mudahnya kau melepaskan ikatan itu. Kau pergi tanpa menoleh lagi kepadaku. Kau tak perlu khawatir Cho Kyuhyun, tanpa kau mintapun, hati dan pikiran ini selalu terpatri akan dirimu.

Kau berkata kau mencintaiku. Yah, kau memang mencintaiku. Kau mencintaiku hanya dalam surat ini tidak dalam kehidupan. Kau menilaiku berbeda dari yeoja lain. Yah, aku memang berbeda dari mereka. Aku, yeoja masalalu mu dan salah satu dari mereka akan menjadi yeoja masa depanmu. Kau menginginkan aku untuk menikah denganmu? Perkataan shit apalagi yang kau gumamkan Cho? Tidakkah kau merasa iba kepadaku? Kau membuatku menanggung semuanya sendiri. Kau bilang aku berhasil memenangkan hatimu dan sekarang ku bilang kau berhasil membekukan hatiku. 

Jika suatu saat nanti takdir dan waktu mempertemukan kita kembali, ku harap seorang Kwon Yuri dan Cho Kyuhyun hanya saling berpapasan saja, tidak untuk saling mengenal lagi.

Sungguh Cho, aku tidak membencimu. Sampai saat inipun perasaan ini masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. 

***

2016

“Yuri-ssi, bisa kau entri dokumen ini untukku?” Aku menganggukan kepala ketika CEO muda perusahaan tempatku bekerja menyuruhku. 

Wu Yifan, atau lebih di kenal Kris. Ia adalah sesosok namja muda dengan pangkat CEO. Banyak dari pekerja di sini membanggakannya terlebih lagi yeoja-yeoja. Selain cerdas, Mr. Kris merupakan namja tampan dengan gaya yang elegan. Sikapnya yang ramah membuatnya lebih di kenal di perusahaan ini. Tapi ia sedikit tertutup jika berhubungan dengan yeoja. Entah apa alasannya yang pasti bukan karena ia memiliki kepribadian lain. 

“Ne Mr. Setengah jam lagi akan saya antar ke ruangan anda.” Ia tersenyum tipis kepadaku dan pergi menuju ruangan pribadinya.

*** 

Ku ketuk kembali pintu ruangan CEO tapi tidak ada sahutan di sana. Aku mencoba kembali untuk mengetuknya dan kali ini Mr. Kris menyuruhku untuk masuk. 

“Mr, ini data yang tadi anda tugaskan untuk saya. Semuanya sudah saya entri dan saya simpan di dokumen yang sudah anda minta.” Aku memberikan flashdisk kepada Mr. Kriss. Ia mulai memeriksa hasil kerjaku dan ku lihat ia mengangguk-anggukan kepalanya. Ku rasa ia puas. 

“Bagus. Oh iya Yuri-ssi nanti malam kamu bisa menemaniku pergi ke acara pembukaan KY Company?” Aku kaget dengan ajakannya. Bagaimana seorang CEO mengajak pegawai rendah sepertiku. Aku hanya diam tidak mengiyakan dan tidak menolak ajakannya.

“Aku tidak ingin mendengar penolakan darimu. Aku akan menjemputmu di apartment pukul 7. Sekarang kau bisa berkemas dan mempersiapkan untuk nanti.”

***

Dengan langkah gontai aku kembali ke apartmentku. Aku tidak bersemangat untuk saat ini. Menemaninya ke acara pembukaan? Tck. Kenapa harus aku? Kenapa ia tidak mengajak yeoja lain saja, menyebalkan. 

Setibanya di apartment, aku merebahkan tubuhku di kasurku yang empuk. Ku hidupkan AC kamarku dan televisi. Ku lihat jam masih menunjukkan pukul 2. Masih ada banyak waktu yang ku gunakan untuk bersantai. 

Aku beranjak ingin membuat teh panas. Dari dapur ku dengar berita bahwa akan ada acara megah pembukaan KY Company. Itu kan acara yang aku datangi bersama Mr. Kris. 

Tidak ada yang special dari berita acara tentang KY Company. Namun, sang reporter menegaskan bahwa pemilik KY Company sangat tampan. Aku hanya mengendikan bahu mendengarnya.

Teh panas sudah jadi, aku kembali pada acara berita yang tadi tengah ku tonton. Aku ingin menyimak berita perihal KY Company namun acara di televisi itu telah mengganti tema berita. Aku hanya mendengus kesal, padahal aku ingin tahu setampan apa pemilik KY Company. Apakah lebih tampan dari CEO perusahaanku? Ahh entahlah, hanya Tuhan yang tahu.

***

Suara klakson mobil berbunyi keras di depan apartmentku. Dengan tergesa aku membenahkan gaun yang ku pakai dan beberapa riasanku. Aku tergopoh keluar dari apartmentku. Ku lihat dari kejauhan raut wajah Mr. Kris tidak bersahabat. 

Ku ketok jendela mobilnya. Ia keluar dari mobil dan seketika ia mematung. Aku merasa aneh, apakah aku melakukan kesalahan.

“Mr? Gwaenchana?” Aku seraya menggoyang-goyangkan tanganku di depan matanya. Ia tetap melamun. Aku di buatnya bingung setengah mati. Ku lihat kembali penampilanku dari ujung kaki hingga rambut, ku rasa tidak ada yang salah. Atau jangan-jangan Mr. Kris kerasukan. Ahh hilangkan pikiran anehmu Yuri-yaa.

“Hallo Mr? Are you ok?” 

“Beautiful.” Aku terperangah kaget mendengar ucapannya. Beautiful? Nugu? 

“Who’s beautiful?” 

“Kau bodoh.” Tiba-tiba rona merah menjalar di kedua pipiku. Aku tidak menyangka CEO tampan seperti Mr. Kris menyanjungku seperti ini.

“Don’t flying. Masuklah kedalam mobil. Aku tidak ingin kita telat hanya karena pikiran konyolmu itu.” Dasar pris menyebalkan. Rutukku dalam hati.

Akhirnya kita sampai di sebuah hotel tempat pembukaan KY Company. Banyak sekali orang-orang penting yang berlalu lalang disini. Ku rasa ini lebih dari sebuah acara pembukaan. Melainkan seperti acara akbar tahunan. 

Kami, aku dan Mr. Kris berjalan beriringan seperti layaknya seorang kekasih. Mr. Kris menggandeng tanganku dengan erat. Aku tidak merasakan apa-apa hanya saja tubuhku agak sedikit bergetar.

Kami ikut menyambut para tamu sebagai tanda penghormatan. Mr. Kris mulai berbincang-bincang perihal bisnis dengan rekan kerjanya. Aku merasa bosan dengan suasana disini. Tidak ada hiburan selain makanan mewah yang di suguhkan. 

Sesuap sendok masuk kedalam mulutku. Aku tengah menikmati hidangan yang sungguh melezatkan. Ku rasa KY Company bukan sembarang perusahaan. Dari dekorasi ruangan hingga makanan terlihat mewah dan elegan. 

Sesaat aku menikmati waktuku, tiba-tiba lampu ruangan mati. Aku mengerjap kaget. Sontak ku taruh piringku di meja. Mungkin acara akan segera di mulai.

“Annyeonghaseo, terimaksih sudah meluangkan waktu anda sekalian untuk datang di acaraku.” Deg. Aku mengenal suara itu. Itu suara milik Cho Kyuhyun. Apa? Apa ia pemilik KY Company? Ku balikkan tubuhku untuk menghadap ke arah panggung. 

“Cho..” Tanpa sadar bibirmu memanggil setengah dari namanya. Hatiku mencekat. Mataku memanas tiba-tiba. Ingin rasanya aku berlari dan berhambur kepadanya. Namun langkah kakiku menahannya. Bodoh jika aku melakukan ini.

“Terimakasih kepada Appa dan Eomma, juga terimakasih kepada adikku Choi Minho. Dan juga untuk seseorang yang menyemangatiku, Seohyun.”

Seohyun? Siapa dia? Apakah dia adalah wanitamu Cho? Secepat itukah kau melupakanku? Bahkan aku sendiri tidak melupakanmu dan tidak pula berniat melupakanm Cho.

Aku tidak bisa mencegah lagi cairan bening ini. Mereka sukses mengalir deras, turut berduka atas perihnya hatiku. Aku tidak menyangka takdir akan berpihak demikian kepadaku. Yah, mungkin Tuhan mengabulkan doaku yang jika kita bertemu kita hanya menjadi orang asing, tidak mengenal dan hanya berpapasan saja.

Aku beranjak dari tempatku. Aku inginkan pulang untuk saat ini. Aku tidak peduli kepada setiap pasang mata yang memandangku aneh karena menangis. Aku berjalan terseok-seok. Aku tidak mampu lagi menahan beban ini lagi. Apa gunanya jika harus aku yang bertahan dan menahan. Detik ini juga aku pilihkan untuk melupakanmu Cho Kyuhyun. 

Selangkah, dua langkah, hingga aku mendengar namaku dipanggil olehnya.

“Terimaksih untuk, Kwon Yuri. Seseorang yang mampu membuatku untuk bertahan dan menahan semuanya. Seseorang yang mengendalikan hati dan pikiranku tiap jam, menit dan detiknya. Seseorang yang selalu menjadi alasanku untuk hidup dan, seseorang yang membuatku menjadi aku yang sekarang ini.”

Aku membalikkan tubuhku untuk menatapnya. Ia juga menatapku. Kami saling pandang memandang beberapa menit. Ku lihat matanya memerah, ia sedang menahan untuk tidak menangis. Ku lihat pula ia mengepalkan kedua tangannya disisi. Aku dapat membaca dari tatapannya bahwa ia merindukanku. Aku juga merindukanmu Cho, sangat.

“Yuri-yaa.. aku minta maaf untuk semua ini. Aku minta maaf telah membuatmu menunggu begitu lama. Aku minta maaf karena ulahku kau menghabiskan malam-malammu dengan menangisi takdir hidup yang kau jalani. Aku minta maaf saat kau menangis aku tidak bisa membantu menyeka air matamu itu. Aku minta maaf karena membuat cemas selama hampir 3 tahun ini. Mungkin kau bertanya-tanya kemana aku selama ini? Mengapa aku tega meninggalkanmu? Sungguh Yuri-yaa, aku tidak bermaksud melakukan ini kepadamu. Ada sesuatu yang mesti aku urus, yaitu diriku sendiri. Aku minta maaf Yuri, aku meninggalkanmu selama ini. Aku berjanji tidak akan melakukan ini lagi. Bukankah kita sudah terikat? Aku telah mengikat hatimu dengan hatiku. Itu tandanya kita tidak akan terpisahkan bukan? Yuri-yaa kemarilah, aku merindukanmu.” Kyuhyun merentangkan kedua tangannya menyambutku. Tanpa menunggu aba-aba lagi aku berlari menuju panggung dimana Kyuhyun berada. Aku segera berhambur dalam pelukannya. Kami berdua menangis. Kyuhyun memelukku erat dan aku membalas pelukannya. 

“Mian Yuri.” Aku mengangguk-angguk. Aku tidak ingin kehilangannya lagi.

Aku melirik kedua namja tampan yang berada di samping Kyuhyun. Aku tidak mengenalnya. Tapi mereka seolah mengenalku sangat baik. Mereka tersenyum kepadaku dan mereka merangkul bahu kyuhyun.

“Yuri, aku tidak akan membuatmu bingung dengan semua ini. Aku akan menjelaskannya. Sekarang.” Aku memandangnya penuh minat. Aku akan menanti penjelasanmu Cho.

“Yuri-ssi.” Aku menoleh kepada orang yang memanggil namaku. Aku mengernyitkan dahi karena tidak mengenalnya. Aku bertanya kepada Kyuhyun siapa mereka. Dan Kyuhyun hanya tersenyum simpul.

“Yuri, ini Donghae, Siwon dan Changmin. Mereka adalah rekanku selama aku sakit. Mereka yang telah membantu merawatku.” Aku bingung dengan pernyataan Kyuhyun bahwa ia sakit.

“Sakit? Apa kau sakit?” Tanyaku penuh kekhawatiran.

“Ne. Tepatnya 3 tahun yang lalu, aku mengidap penyakit Alzheimer. Penyakit yang membuat daya ingatku melemah tiap waktunya.” Hatiku sakit mendengar pengakuannya. Aku merasa bersalah telah menuduhnya yang tidak-tidak. Aku kembali memeluknya dan dia membalas pelukanku dan mengelus mesra rambutku. 

“Yuri? Will you marrie me?” 

“Ne, Cho.” Kami berpelukan, tidak memperdulikan manusia yang lain. Bagi kami setelah penantian yang panjang ini, akhirnya kami bahagia.

***

Kyuhyun’s POV

Dulu, aku seorang yang penuh dengan kebahagiaan. Aku bahagia yang menemukan cintaku dalam hati Kwon Yuri. Aku sangat mencintainya. Tidak ada alasan bagiku mengapa itu bisa terjadi. Namun, suatu ketika, keadaan buruk menimpaku. Dimana, aku harus tega meninggalkan Yuri. Mungkin kalian akan berpikir bahwa aku adalah pria egois. Tapi sungguh, akupun tidak menginginkan ini terjadi.

Aku mengidap penyakit Alzheimer. Sebelumnya aku mendapat insiden kecelakaan yang membuat cidera parah di kepalaku. Aku sengaja tidak memberitahu Yuri. Aku tidak ingin membuatnya khawatir. 

Sebulan, dua bulan tidak ada akibat fatal namun seiring berjalannya waktu, aku mulai merasakan ada yang aneh dalam diriku. Aku menjadi seorang pelupa. Bahkan saat bersama Yuripun aku lupa bahwa Yuri adalah kekasihku. 

Aku memilih menghilang dari Yuri, aku tidak ingin menjadi jahat jika meluangkan waktu bersamanya tiba-tiba pertanyaan aneh keluar dari mulutku semisal, “Siapa kau?” “Apa kau mengenaliku?” Itu akan berakibat buruk bagi hubungan kami nanti.

Aku pindah ke Amerika. Disana aku dirawat secara intensif. Seohyun, Donghae, Siwon, dan Changmin juga ikut merawatku. Mereka adalah anak dari rekan kerja appaku. Kami sangat dekat sejak kecil namun Yuri tidak mengetahui ini. 

Aku menceritakan kepada mereka bahwa aku sangat mencintai Yuri. Aku tidak ingin penyakitku ini membuatku lupa akan sosok Yuri. 

Setiap hari saat aku terbangun dari tidurku. Aku mencari bingkai foto yang terpampang wajah cantik milik Yuri. Aku sering mendengar lagu-lagu kesukaannya. Melakukan apa yang biasa ia lakukan. Mencontoh cara bicaranya dari video yang dulu sempat ku rekam bersamanya. Mungkin dengan cara ini aku bisa kembali mengingat Yuri seutuhnya tanpa takut akan lupa lagi.

2 tahun aku berperang melawan Alzheimer, dan aku berhasil memenangkannya. Dokter mengatakan bahwa aku sembuh total. Dokter tidak percaya dengan ini.

Setelah sembuh aku tidak langsung menemui Yuri. Aku tidak siap untuk menemuinya. Takut kalau Yuri akan menolakku dan membenciku.

Aku menyuruh Minho untuk mengawasi Yuri tiap harinya dan menjaganya. Aku berterimakasih karena Minho bersedia melakukan itu untukku.

Setelah Yuri lulus kuliah. Aku memberinya pekerjaan namun tidak melalui aku langsung tapi melalui Yifan atau Mr. Kris, ia adalah sahabatku saat kecil. Yifan memperlakukan Yuri dengan begitu baik.

Dan, pada saatnya aku harus mengungkapkan semuanya kepada Yuri. 

Aku menggelar acara pembukaan KY Company hanya untuk melamar Yuri. Aku menyuruh Yifan untuk mengajaknya ikut serta. Dan saat itulah aku berani untuk memunculkan diriku di depannya dan berkata bahwa aku masih mencintainya.

Aku bersyukur ternyata Yuri masih menyimpan perasaan yang sama meskipun aku mengacuhkannya bertahun-tahun. 

Inilah yang ku katakan bahwa Yuri berbeda dari gadis lain. Ia tetap percaya kepadaku walau aku meninggalkannya. Ia rela menanggung kesedihannya sendiri hanya untuk cinta yang tak tahu kapan dan bagaimana ujungnya. Sebab itulah aku mencintai Kwon Yuri.

Sangat mudah melerai yang 2 menjadi 1 tapi, sangat sulit menggabungkan yang 1 untuk menjadi 2. Hati tetaplah hati, pikiran tetaplah pikiran. Jika cinta itu murni maka keduanya, hati dan pikiran akan menyatu tidak peduli dari salah satunya mana yang akan tersakiti. 
END

Advertisements

32 thoughts on “THE VOW

  1. Wahh Daebakkk ff nya
    Ku pikir tadi kyuhyun meninggalkan yuri gara2 cewek rupanya karena sakit tapi akhirnya mereka bersatu
    Aku tunggu ff Kyuri lainnya
    Gomawo author ff nya ☺

    Liked by 1 person

  2. Woah ff KyuRi ^^

    Haha awalnya sempet mikir kalau Minho itu suka sm Yuleon, tapi ternyata dia adiknya Kyu 😀
    Yah sayang bgt udh end, padahalkan KyuRi belum nikah 😦

    Liked by 1 person

  3. aku kira kyuhyun gk akan balik lagi ke yuri ternyata jeng jenggggg dia balik lagi dan ngasih tau alasan dia pergi ninggalin yuri bertahun-tahun

    yuri nangis pas denger alasan kyuhyun pergi itu karena kyuhyun mengidap alzheimer 😦 tapi untung nya dia udah sembuh sekarang

    di tunggu ff lainnya eonni 🙂

    Liked by 1 person

  4. Hay ijin baca ffnya…. Wow ceritanya seru ternyata kyu oppa niggalin yuleon hanya untuk berobat…… Akhirnya kyuri bisa bersatu jg…. Ditunggu ff selanjutnya fighting…

    Liked by 1 person

  5. Penantian yuri ga sia sia, hampir 3 taun nunggu kyu, yuri cma berthan trus atas dsar dia percya bahwa kyuhyun akan kembali, mungkin
    dan, kalo semisal ada kjadian yg nyata kaya bgnii, saluut dah hihi

    fighting ya ka, d tunggu karya selanjutnya

    Liked by 1 person

  6. Annyeong haseyo, eonni…
    Kenalkan aku Lia…
    Aku reader baru disini…
    Aku dapet blog ini dari hasil mengobrak-abrik internet…

    Cetitanya sedikit menyesakan hati…

    Like

  7. Aku kira kyu ninggalin yuleon gara2 dijodohin sama seohyun ehh trnyata dia sakit .Tpi aku salut sama perjuangannya kyu buat sembuh,dan juga yuleon yng hatinya ttep buat kyup.Kirain kris sama minho suka sama yuleon,trnyata mereka disuruh sama kyu.,

    Like

  8. Awalnya kesel liat kyu ninggalin yur i trus yuri berubah.. eh gak taunya kyu ninggalin dia karna sakit. Untung aja yuri mau dngar penjelasan kyu dan balikan ama kyu.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s